Sabtu, 20 September 2008

Ramadhan Dalam Kereta 2

Perjalananku kali ini tidak terlepas dari sesuatu yang sangat kubenci. Rokok. Ya, bau dan asap rokok inilah yang sangat kubenci.Di luar bulan puasa saja aku bencinya setengah mati, apalagi pada bulan puasa di siang hari begini, bencinya tiga perempat mati. Sorry, kalau benci satu mati entar jadi mati dong. Nggak bisa nulis….

Di kereta juga begitu, aroma rokok masih saja ada. Padahal bulan puasa seperti ini. Kalau makan minum masih bisa dimaklumi karena emang orang safar boleh berbuka kan ? Tapi kalau sampai menghisap rokok ini namanya cari perkara, di depan umum lagi.

Rokok, terlepas dengan status hukumnya yang masih diperdebatkan mau tak mau memang telah menjadi masalah yang serius di negeri ini. Banyaknya perokok dan kasus kesehatan akibat rokok ternyata memang tak sebanding dengan besar cukai yang diberikan kepada Pemerintah, baik pusat maupun daerah. Bayangkan, kota Kediri di Jawa Timur, 60 % perekonomian daerah tersebut ditopang oleh perusahaan rokok Gudang Garam dan anak-anak perusahaannya. Artinya, banyak sekali jiwa yang ditanggung oleh sebuah industri rokok, barang terkutuk itu. Entar atau sekarang mungkin sudah ada, rumah sakit yang khusus menangani rehabilitasi bagi perokok. Ingat, berapa orang yang tergantung dengan rumah sakit ini. Dokter, perawat, laboran, apoteker, tukang kebun, tukang becak,sopir angkot dan tentu saja pasien itu sendiri. Bayangkan jika di negeri ini tidak ada satu perokok pun. Udara segar, tanpa suara batuk, tanpa asap mengepul, tanpa bibir kehitaman. Pun begitu juga, tanpa setoran trilyunan rupiah ke pemerintah yang berubah menjadi jalan-jalan aspal halus atau masuk kantung para koruptor.

Mungkin karena banyak masalah yang akan timbul belakangan ini, maka belum ada kata sepakat terhadap pengharaman rokok di kalangan Majelis Ulama Indonesia. Di Jawa Timur sendiri, ulamanya banyak yang tidak setuju label haram itu karena melihat dampak ekonomi di daerah penghasil rokok seperti Kediri, Malang, Pasuruan dan lain-lain. Dan tentu saja karena masih banyak AHLUL HISAP di kalangan ulama dan pesantrennya.


 

Tidak ada komentar: