Rabu, 24 September 2008

Ramadhan dan Madzhab Nonpopuler 2

Ada berbagai golongan dalam periode ini. Kita mulai saja dari waktu sore menjelang maghrib.

Madzhab Konseriyah : Orang-orang dalam golongan ini menghabiskan waktu menunggu berbuka dengan nonton konser atau malah dia sendiri yang konser. Konsrnya biasanya musik, tetapi ada juga yang konser lawakan, ketrampilan sulap maupun atraksi olahraga seperti skate board, free style dan lain-lain. Istilah yang dipakai mereka adalah ngabuburit.

Madzhab Mauliyah : Penganut madzhab ini menghabiskan waktu dengan jalan-jalan di mal-mal sampai saat menjelang maghrib datang. Sebenarnya tidak ada yang dibeli, hanya menghabiskan waktu saja.

Madzhab Safariyah : Orang-orang ini sering bepergian / safar saat buka puasa Bulan Ramadhan. Bila dia pejabat, maka itu diperlukan untuk bisa jumpa setor muka pada rakyatnya dan menyerap aspirasi mereka. Woww..keren tuh. Kalau mahasiswa anak kost, safari mereka ke masjid-masjid se-antero Jogja untuk berganti menu ta’jil / buka puasa yang disediakan masjid-masjid itu. Bisa menghemat anggaran belanja bulanan. Dari hari Senin sampai Ahad mereka bisa hapal menu-menu favorit di tiap-tiap masjid. Misal setiap kamis di Masjid Gedhe Kauman selalu disediakan menu gule kambing. Allahummaghfirlana….Ya, Allah ampunilah kami atas masa lalu seperti itu…

Madzhab Buswaiyah : Kasihan orang-orang ini. Saat maghrib tiba masih di dalam busway, bis kota, kereta api atau kendaraan pribadi dan terjebak kemacetan jalan raya. Jika dalam busway, maka ada peluang berbagi kebaikan. Siapkan selalu air mineral beberapa gelas plastik dan kue kering atau kurma.Saat maghrib, berikan ke penumpang yang lain sebagai ta’jil. Gak perlu banyak-banyak. Walaupun terlihat sederhana, namun ini bisa membuat rasa persaudaraan dan kasih sayang semakin kuat. Andaikata ini dicontoh yang lain, maka Anda akan mendapat pahala memulai suatu kebaikan tanpa mengurangi pahala orang yang melakukan.

Madzhab Tho’amiyah Ula : Adzan maghrib tiba, langsung santap nasi dan berbagai hidangan yang ada. Adzan maghrib yang merupakan panggilan sholat berjamaah tidak dihiraukan lagi. Memang, saat Ramadhan, adzan maghrib telah berganti fungsinya. Bukan lagi panggilan sholat jamaah, tapi juga panggilan makan berbuka. Makan minum lama, sholat jamaah di masjid sudah selesai. Tidak perlu ke masjid, di rumah saja. Kan bisa dipercepat atau diperlambat semau gue, terserah perut yang baru diisi.

Madzhab Tarowiyah : Golongan ini terdiri dari orang-orang yang datang ke masjid atau musholla yang lebih mementingkan sholat tarawih. Sholat Isya’ berjamaah sudah selesai. Saat jamaahlain sedang dzikir atau mendengarkan ceramah, dia datang, sholat Isya’ sendirian, kemudian ikut sholat tarawih bersama. Rugi besar. Yang wajib dibiarkan tidak sempurna, yang sunnah dipenuhi, tapi jelas asal-asalan juga.

Ada juga kebalikan dari orang-orang ini. Datang hanya sholat Isya’ berjamaah, kemudian pergi tidak ikut tarawih. Alasannya tarawihnya entar kalau agak maleman. Kepada orang-orang seperti ini,….No Comment

Madzhab Nafasiyah : Orang-orang ini melakukan sholat tarawih dengan sangat cepat. Dinamakan Nafasiyah karena mereka biasa membaca Surat Al Fatihah dalam satu tarikan nafas. Cepat sekali bukan ? Dua puluh rakaat plus tiga rakaat witir plus doa-doa diantaranya bisa selesai dalam waktu kurang dari 30 menit.
Ada yang menarik dari cara seperti ini. Seorang Kyai ketika ditanya mengapa sholat begitu cepat, dijawab agar jamaah lebih khusyuk. Masa sih.. ? Lets try to find out..
Sholat yang cepat membuat jamaah tidak lagi berpikir hal lain selain gerakan dan bacaan sholat. Saat berdiri, ketika mau berpikir yang lain, ternyata sudah ruku’. Bahkan bacaan tasbih baru 2 kali, sudah I’tidal. Turun sujud, belum selesai bacaan sujud, sudah duduk tawarruk dan seterusnya sehingga tidak ada ruang kosong untuk berpikir ngelantur selain harus konsentrasi gerakan dan bacaan sholat mengikuti imam. Oh, begitu ya…jadi ini khusyu’ juga namanya. Kan setidaknya konsen gerakan dan bacaan, entar konsen arti dan menghayati bacaan, gerakan dan seterusnya sampai nanti mendapat derajat ihsan, beribadah pada Allah seolah-olah melihat-Nya atau setidak-tidaknya selalu merasa dilihat olehNya. Tapi kalau ngebut gitu bisa sampai ihsan gak yaa..? Senyum Pak Kyai tersungging penuh arti. Telunjuk teracung ke atas. Wallahu a’lam

Tidak ada komentar: